Hari Santri 2026: 5 Program Baru Kemenag untuk Santri, dari SAFESANTRI sampai Dakwah Digital
Setiap 22 Oktober, Indonesia memperingati Hari Santri — momentum mengenang Resolusi Jihad yang dicetuskan KH Hasyim Asy'ari pada 22 Oktober 1945, ketika para santri dan ulama berdiri mempertahankan kemerdekaan. Tahun ini, peringatan Hari Santri 2026 tidak hanya menjadi ajang nostalgia sejarah. Kementerian Agama (Kemenag) meluncurkan lima program besar untuk memperkuat pesantren dan membuka masa depan yang lebih luas bagi para santri.
Mengusung tema "Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas", apa saja lima program tersebut, dan mengapa ini penting bagi kita semua?
1. SAFESANTRI: Keamanan Lingkungan Pesantren
Program pertama adalah penguatan keamanan lingkungan pesantren. Pesantren adalah rumah kedua bagi jutaan santri, sehingga keamanan dan kenyamanan lingkungannya menjadi prioritas. Melalui program ini, Kemenag mendorong pesantren menjadi lingkungan yang aman, sehat, dan kondusif untuk belajar serta beribadah.
2. Pengakuan Ijazah Pesantren
Program kedua menyangkut pengakuan ijazah. Selama ini, lulusan pesantren kadang menghadapi keraguan soal kesetaraan ijazah saat melanjutkan pendidikan atau memasuki dunia kerja. Penguatan pengakuan ijazah ini menjadi kabar baik: ilmu yang ditempa di pesantren mendapatkan tempat yang setara dan diakui secara resmi.
3. Kemandirian Ekonomi Pesantren
Program ketiga adalah kemandirian ekonomi. Pesantren didorong untuk mandiri secara ekonomi melalui unit-unit usaha dan kewirausahaan. Langkah ini sejalan dengan program Santri Matic, hasil kolaborasi Kemenag dengan Kementerian Ekonomi Kreatif, yang memperluas literasi digital, kreativitas, dan peluang ekonomi kreatif berbasis pesantren — mulai dari produksi konten, desain, fesyen, kuliner, hingga pemasaran produk pesantren.
4. Peningkatan Kompetensi Santri
Program keempat fokus pada peningkatan kompetensi santri, termasuk penguasaan teknologi. Melalui platform MOOC Pintar, Kemenag menyelenggarakan lima pelatihan khusus, di antaranya penggunaan kecerdasan buatan (AI), pembuatan konten digital, pengelolaan data ijazah, penyelenggaraan ujian, dan akuntabilitas dana pendidikan pesantren. Minatnya luar biasa: pelatihan AI mencatat sekitar 30.000 pendaftar, sedangkan pelatihan pembuatan konten digital diikuti sekitar 3.200 peserta.
Kepala Badan Moderasi Beragama dan Pengembangan SDM Kemenag, M. Ali Ramdhani, mengingatkan satu prinsip penting: santri harus menguasai teknologi tanpa meninggalkan nilai-nilai keagamaan. Pemanfaatan AI dalam pembelajaran agama pun tetap memerlukan bimbingan guru, terutama untuk persoalan hukum dan fikih.
5. Dakwah Digital
Program kelima adalah pengembangan dakwah digital. Di era media sosial, dakwah tidak lagi hanya dari mimbar. Santri didorong menjadi dai digital yang menyebarkan nilai Islam yang moderat, menyejukkan, dan berlandaskan ilmu — menjangkau generasi muda di ruang-ruang digital tempat mereka berada.
Penguatan Kelembagaan: Ditjen Pesantren
Kelima program ini diperkuat oleh terbitnya Peraturan Presiden Nomor 18 Tahun 2026 tentang pembentukan Direktorat Jenderal Pesantren (Ditjen Pesantren). Regulasi ini menandai komitmen negara yang lebih serius terhadap pesantren, agar lembaga pendidikan Islam ini memperoleh pengakuan dan dukungan yang lebih luas.
Penutup
Hari Santri 2026 mengingatkan kita bahwa santri bukan hanya penjaga tradisi, tetapi juga penentu masa depan. Dari Resolusi Jihad 1945 hingga dakwah digital 2026, benang merahnya sama: ilmu, akhlak, dan pengabdian untuk negeri. Semoga program-program baru ini benar-benar dirasakan manfaatnya oleh para santri di seluruh Indonesia, dan menginspirasi kita semua — santri maupun bukan — untuk terus belajar, berkarya, dan menguatkan negeri. Wallahu a'lam.
Sumber: Kementerian Agama (peringatan Hari Santri, 22 Oktober 2026) dan ANTARA (pelatihan MOOC Pintar, Oktober 2026).

Post a Comment for "Hari Santri 2026: 5 Program Baru Kemenag untuk Santri, dari SAFESANTRI sampai Dakwah Digital"